Resensi ke-4
Judul buku: Padang Ilalang Dibelakang Rumah
Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama
Dicetak: Pt Sun Jakarta
Jumlah halaman: 99 halaman
Cetakan kedua: mei 1989
Cetakan ketiga: Agustus 1991
Cetakan keempat: Mei 1993
Cetakan kelima: September 1995
Cetakan keenam: Februari 2000
Cetakan ketujuh: Mei 2002
Buku ini menceritakan tentang Belanda meninggalkan Kotaku.
Belanda meninggalkan kotaku.selama beberapa hari rakyat merampok isi gedung yang bisa mereka buka, mengambil segala yang dapat mereka pegang. Kemudian Jepang masuk.Kota jatuh ketangannya tanpa ada yang melawan. Kedatangannya justru di anggap sebagai penyelamat dari penjajahan.Dengan kecepatan dan kesigapan berorganisasi yang di kagumi Ayah ,Tentara Jepang itu menyusun kembali kegiatan hidup penduduk.
Lima orang serdadu jepang tiba- tiba berada dibelakang kampung. Nugroho melihat mereka memotong Ilalang di padang yang membatasi kebun kami Dengan sungai. Orang-orang kampung berduyunan menyaksikan para pendatang baru itu.
Seisi rumah tidak ketinggalan mengawasi mereka dari kebun. Beberapa waktu kemudian, dua orang diantaranya mendekati pagar, mengatakan sesuatu. Bapak yang mengerti beberapa bahasa asing tidak dapat menangkap maksud orang-orang Jepang tersebut. Sebentar terjadi percakapan damai di antara Serdadu Serdadu itu. Suaranya gaduh seperti orang Cina lalu dua orang diantaranya mendekati lagi. Dan tanpa tingkah kesopanan sedikitpun mereka mematahkan bilah-bilah bambu serta tanaman yang menjadi pagar, langsung menuju ke tempat ayah berdiri. Sekali lagi berbicara ramai, sambil tangannya bergerak-gerak hendak menunjukkan kemauannya. Ayah yang mulai kehilangan kesabaran karena melihat mereka masuk ke kebun tanpa izin dan pagarnya dirusak, nampak mengerti kehendak Serdadu Serdadu itu. Dia mengangguk kaku tanpa berkata sesuatu pun berjalan menuju ke rumah diikuti kedua orang tentara itu. Kami semua juga membuntutinya. Naik beberapa anak tangga, sampai di depan kamar mandi, dapurku Mah naik lagi ke rumah tiba-tiba latar terus semen yang memisahkan rumah induk di rentetan bangunan belakang. Waktu kedua tentara itu menggulungkan kawat aku sempat memperhatikannya dari dekat. Itulah tentara yang dikatakan Bapak penyelamat dari penjajah seru tubuh mereka pendek hampir menghilang ke dalam seragam yang nyata terlalu besar bagi mereka. Sebegitu mereka selesai menggulung kawat Bapak memegang lengan salah seorang diantaranya menurut cerita, simbok sebagai salah seorang Pamong yang ikut nenek pernah membantu menyusui ayah dan saudara-saudaranya ketika masih bayi. Sebab itulah simbok berhak mendapat kamar di dalam rumah induk dipasrahi kunci-kunci lemari perbekalan jika Ibu sedang sibuk atau berpergian kebebasannya bergerak dan berbicara tidak terbatas. Dia dapat mengambil prakarsa demi kebebasan makanan di rumah. Pada waktu-waktu perbincangan dia juga hadir, ikut mendengarkan pada akhir-akhir masa hidupnya, dengan usia yang semakin lanjut, dia semakin cerewet dan mengikuti permasalahan dalam keluarga tersebut selain simbok, pembantu yang juga tinggal di rumah kami adalah seorang wanita muda dengan anak perempuannya, sebayaku. Ibu tidak suka mengeluarkannya. Suami perempuan itu hilang tak ketahuan ke mana.
Buku tersebut menceritakan tentang Belanda meninggalkan kotaku kemudian Jepang masuk kota jatuh ke tangannya tanpa ada yang melawan kedatangannya justru dianggap sebagai penyelamat dari penjajahan. Buku ini menceritakan tentang sebuah Peperangan antara Belanda Jepang China
Kekurangan buku ini: buku ini masih banyak kekurangan seperti kata-katanya masih belum bisa dimengerti sehingga sulit untuk dipahami dan dimengerti.
Kelebihan buku ini: demikianlah kelebihan dari buku ini kehidupan terus mengalir dari seluruh isi rumah Ibuku lah yang paling terengah-engah titik Ya bisa mengikuti zaman dengan langkahnya yang sempit, tertahan-tahan oleh kain dan kebiasaan adat dan struktur lepaskan. Buku ini mengajarkan kita untuk selalu membaca agar dapat dimengerti dan mudah dipahami bagi kaum muda atau atau remaja.